Kamis, 12 November 2009

Senyum Ramah Bapak Suwondo

Siang itu di sekitar wilayah Taman Suropati, matahari tidak begitu terik. Ada berbagai macam aktivitas yang berlangsung di tengah-tengah kesibukan kota metropolitan ini. Ada para pekerja yang sedang merenovasi taman, ada juga para pedagang asongan yang berjualan minuman dan rokok, para satpam penjaga rumah yang sedang duduk-duduk santai di depan rumah megah yang mereka jaga, dan masih banyak lainnya. Hari itu berjalan dengan cukup biasa, hanya saja keruwetan dan kesibukan yang ditemui di sana mampu menimbulkan kelelahan bagi siapa saja yang larut di dalamnya, terutama bagi mereka yang menggeluti pekerjaannya guna mencari nafkah untuk memenuhi kebutuhan hidup keluarga mereka.

Mungkin hal inilah yang juga dirasakan oleh Bapak Suwondo. Siapakah Bapak Suwondo ini? Ia adalah seorang tukang sapu yang sehari-harinya bekerja di sekitar wilayah Taman Suropati. Dengan menggunakan seragam petugas kebersihan, serta sapu lidi dan tong sampah di tangannya ia sibuk menjalankan pekerjaannya. Setiap tumpukan daun-daun kering dan sampah-sampah plastik yang berserakan di sekitar taman dan jalan raya menunggunya untuk disapu.

Di tengah-tengah kesibukannya siang itu, Bapak Suwondo bersedia untuk kami wawancarai. Bahkan, kami diberinya senyuman ramah seakan-akan kami tak menganggu pekerjaannya sama sekali. Kami kemudian menanyakan beberapa hal tentang kehidupannya dan pekerjaannya dalam kaitannya dengan dokumen Mater et Magistra. Untunglah Bapak Suwondo tak berkeberatan.

Bapak Suwondo, 36 tahun, sudah berkeluarga dan memiliki dua orang anak. Anaknya yang pertama duduk di bangku SD sedangkan anak keduanya yang masih kecil belum bersekolah. Istrinya tinggal di rumah untuk mengurus anaknya yang kedua. Setiap harinya kecuali hari Kamis, Bapak Suwondo bertugas menjadi tukang sapu di sekitar Taman Suropati. Ia bekerja mulai dari jam sembilan pagi sampai jam lima sore. Untuk mencapai tempat kerjanya ini, Bapak Suwondo setiap kali harus mengendarai sepeda dari rumahnya di daerah Jatinegara. Cukup melelahkan bukan? Apalagi ditambah dengan kerja Bapak Suwondo yang hanya dihargai Rp 27.000,- per harinya. Namun Bapak Suwondo tidak tinggal diam menanggapi upah tetapnya yang begitu kecil. Ia juga bersedia menerima pekerjaan lain diluar pekerjaan tetapnya. Ia bersedia membersihkan pekarangan atau halaman rumah orang-orang lain.

Ketika kami menanyakan kesulitan yang dihadapinya, tentunya ia menyatakan bahwa penghasilan yang ia dapatkan masih jauh untuk memenuhi kebutuhan hidup keluarganya. Namun, ia mengaku tak pernah putus asa dan tetap terus berusaha. Dengan semangat optimismenya yang tinggi, ia tidak mau ‘kalah’ dengan tantangan yang harus ia hadapi. Kami kira ia terdorong oleh rasa cinta yang begitu besar terhadap keluarganya. Dan senyuman yang ia berikan, bagi kami adalah sebuah inspirasi untuk mengembangkan diri dan tetap berpikir positif di kala menghadapi semua rintangan dalam hidup.

Dari wawancara singkat ini, kami mampu belajar banyak hal. Ternyata kesenjangan sosial begitu nyata terlihat di ibu kota. Di tengah-tengah kawasan perumahan yang megah, masih ada orang-orang yang bekerja dengan upah begitu kecil. Ternyata, masih ada orang yang tidak mengeluh meskipun ia harus menjalankan pekerjaan yang tidak terhormat. Ternyata, masih ada orang yang begitu optimis untuk memperbaiki kualitas hidupnya dan menghidupi keluarganya. Dan ternyata, cinta kasih dan berkat Tuhan begitu universal dan mampu dirasakan semua orang.

Melihat senyum ramah dan semangat Bapak Suwondo, kita seharusnya malu karena terkadang begitu mudah menyerah melawan terpaan rintangan. Sedikit-sedikit menyalahkan ketidakadilan Tuhan, sedikit-sedikit maunya enak sendiri dan mengambil jalan pintas yang tidak dapat dibenarkan. Lalu bagaimanakah dengan Anda?

Tidak ada komentar:

Posting Komentar